Suatu hari aku mau gantian bully Maly….
“Kamu ngomong apa ya tadi Indy? Lalalala lalalala lalalala. Eh apa ya tadi??? Aku kog ngga dengar.”
Beteeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!
Suatu hari aku mau gantian bully Maly….
“Kamu ngomong apa ya tadi Indy? Lalalala lalalala lalalala. Eh apa ya tadi??? Aku kog ngga dengar.”
Beteeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!
“Hehhhh Indy malasnya, kenapa ya hubby sayang banget sama kamu.”
“Dia tengok aku chatting sama orang lain dia pun ingatkan aku…AWAS ISTRI KAMU MARAH NANTI…”
“Hahahahahah alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaaah.”
“Erkkkkkkk bencinya! Kamu ketawaaaaaaaaaaaaaa?”
“Ya dah aku diam deeeeeeeeeeeeh…ffffffff “
“Ehhhkh benci aku ma kamu Indyyyyyyy. Baru aja buka note book hubby pasti selalu bilang…eh awas istri kamu ngambek.”
“Hah jadi kamu sekarang sering chatting ma cewe-cewe daripada ngurusin bisnis kamu????”
“Ngambek aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.”
“ehhhHhhhH Indyyyyy~`~“~~`~ Indy~`~~“~~`~`”
Diam Mode.
Setengah jam Maly bujukin aku. Tentu dengan beragam cara…beragam caraaaaaaa.
Catatan Maly
Waktu yang bergulir
merentap sepersepuluh detik nafas
kadang seakan terhenti tanpa belas
Airmata paculah sederasnya
biar sampai tepat pada pusaran
tebing-tebing kesempurnaan…
Usai theraphy rutin ma psikolog aku telpon Maly.
“Sayang kata psikolog itu dengan jam kerjaku gila-gilaan begini patnerku harus yang ngga model demanding…ga banyak nuntut, harus yang mandiri dan saling percaya.”
“Aduh gimana ya sayang kriteria psikolog tu ngga ada sama aku……”
“Hahahaha dasar Pinooooooooooooooooooooooooooo aku memang ngga cinta kamuuu !
Aku ngebet anak-anak dibawa sesekali bersama Maly ke rumahku, tapi katanya harus menunggu liburan tiba. Tapi kapan?
“Sayang jadi anak-anak datang bulan berapa?”
“Tunggu bulan jatuh ke pangkuanmu…”
“Hah? Pino seriusssssssssssssss doooooooooooooooooooong.”
“Wakakakakaka”
Maly punya ide aneh.
“Sayang aku kangen, nanti kalau kita ketemu lagi aku mau mandikan kamu ya.”
“Hmmmm woaaaaa……mauuuu tapi kenapa mau mandikan aku sayang?’
“Ya kamu tu mandi ngga bersih, wakakakakka.”
” Malyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy keterlaluan!!!!”
Bumi sedang membalikkan badan ketika kasih itu muncul di antara biru langit. Senyumnya tertutup, mengambang. Sementara tangan menggenggam tangan-tangan kecil menyapa Al Quran di pagi hari. Cinta, biarkan ia menyembul di balik bayang dua badan kita yang sedang bersyukur menghadang mentari terbit, karena sayangku teramat panjang, karena perhatianmu teramat berharga. Seperti penyambung nafas-nafas tanah yang terus saja diam, detak jantung batu yang terlihat tak bernyawa, denyut nadi gunung yang gagah tertopang di pacaknya. Kuyakin bumi takkan lagi memunggungimu, aku dan anak-anak kita.
Sayang, kamukah yang merajai waktu. Menodai kebosanan dengan kasihmu yang tak berujud. Kurindukan jiwa religimu yang mengaliri hasrat kesederhanan oleh sabar, santun, kejujuran, dan kasih mengalir atas nama-Nya.
Aku mencibir pada waktu yang tak menyisakan malam panjang pada kita. Berharap kasih antara kelam dan pagi tetap membuat kita terjaga. Ingin kusembunyikan cahaya mentari di balik selimut, sambil memeluk tubuh cintamu dengan kesyukuran…Sungguh aku mencintaimu untuk ribuan temaram, namun takut dini hari menyembunyikanmu. Kekasih karena kutak mampu menghindar kerinduan yang akan mendera keikhlasan sisa-sisa hari itu
Warna-warna menyesapkan cinta. Tentangmu yang tak pernah berhenti merindu. Meracau nama di setiap alur hirupan nafas hela. Entah yang keberapa kuhitung setiap langkah itu, seketika rentang detak jarum menghujam marah atas jarak terbebat perairan antara singasanamu dan perapianku. Kita masih mabuk atas rasa itu, membutakan jarak yang terkabur oleh tanah-tanah yang kita injak, langit yang menaungi…sekali lagi bisakah terdengar senandung kesendirianku? Ia tumbuh dari akar tanah…menjadi batang, daun dan tunas, melahirkan kuntum-kuntum yang warnanya terus-menerus menyesapkan cinta.